Pendidikan Tinggi Bukan Jaminan Seseorang Menghargai Orang Miskin

Daftar Isi

 

ZONAINTIEM.COM – Pendidikan sering kali dianggap sebagai salah satu ukuran kualitas seseorang. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin luas pula pengetahuan dan wawasan yang dimiliki. Namun, pendidikan tinggi ternyata bukan jaminan bahwa seseorang otomatis mampu menghargai orang lain, terutama mereka yang berada dalam kondisi ekonomi lemah.


Di tengah kehidupan sosial, masih dapat ditemui orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi, jabatan, maupun kekayaan, tetapi dalam kesehariannya belum tentu menunjukkan sikap menghargai terhadap masyarakat miskin atau kelompok yang memiliki keterbatasan.


Padahal, menghargai sesama manusia seharusnya tidak ditentukan oleh status sosial.


Menghargai manusia tidak mengenal status


Seseorang yang memiliki kekayaan lebih banyak tidak lantas memiliki nilai kemanusiaan yang lebih tinggi daripada orang yang hidup sederhana.


Begitu pula seseorang yang memiliki jabatan tidak seharusnya merasa lebih tinggi daripada masyarakat biasa. Jabatan merupakan amanah dan tanggung jawab, bukan alasan untuk merendahkan orang lain.


Orang miskin tetap memiliki martabat. Mereka tetap memiliki perasaan, harapan, hak untuk dihormati, serta hak untuk diperlakukan secara manusiawi.


Karena itu, sikap menghargai seharusnya berlaku kepada siapa saja, baik kepada orang kaya maupun miskin, pejabat maupun rakyat biasa, orang berpendidikan tinggi maupun mereka yang tidak memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi.


Pendidikan seharusnya membentuk sikap dan karakter


Pendidikan memang memberikan pengetahuan. Namun, pengetahuan saja tidak cukup apabila tidak disertai dengan empati dan karakter.


Seseorang bisa memiliki gelar akademik yang tinggi, memahami banyak teori, dan mampu berbicara dengan baik. Tetapi ukuran kemanusiaan juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuasaan.


Justru ketika seseorang berada pada posisi yang lebih tinggi, seharusnya semakin besar pula kesadarannya untuk menghargai mereka yang berada dalam kondisi lebih lemah.


Sebab, orang yang membutuhkan bantuan atau memiliki keterbatasan bukan berarti memiliki derajat kemanusiaan yang lebih rendah.


Kaya dan punya jabatan bukan alasan untuk merendahkan


Kekayaan dan jabatan dapat berubah. Seseorang yang hari ini berada di atas belum tentu selamanya berada di posisi tersebut.


Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk merendahkan orang miskin hanya karena merasa memiliki kehidupan yang lebih baik.


Begitu juga dengan jabatan. Jabatan memiliki masa dan tanggung jawab. Ketika jabatan berakhir, seseorang kembali menjadi bagian dari masyarakat.


Yang kemudian diingat bukan hanya jabatan atau kekayaannya, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan orang lain selama berada dalam posisi tersebut.


Ukuran manusia bukan hanya pendidikan dan status sosial


Pada akhirnya, pendidikan, kekayaan, dan jabatan merupakan bagian dari perjalanan hidup seseorang. Namun, ketiganya bukan satu-satunya ukuran kualitas manusia.


Ada nilai yang tidak tercantum dalam ijazah, tidak terlihat dari rekening, dan tidak tertulis di kartu jabatan, yaitu empati, kesopanan, kepedulian, dan kemampuan menghargai sesama.


Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang memiliki banyak orang berpendidikan, tetapi juga masyarakat yang mampu memperlakukan setiap manusia dengan bermartabat.


Sebab orang yang benar-benar berpendidikan bukan hanya orang yang memiliki ilmu, tetapi juga orang yang memahami bagaimana menggunakan ilmunya untuk menghargai dan memperlakukan manusia lain dengan baik.


Dan satu hal yang perlu diingat: orang miskin bukan manusia kelas dua, kaum lemah bukan manusia yang boleh direndahkan, dan jabatan maupun pendidikan tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan rasa kemanusiaan.

Posting Komentar